BCA Siapkan Aksi Korporasi Buyback Saham Maksimal Rp5 Triliun Tahun 2026

Jumat, 30 Januari 2026 | 12:46:27 WIB
BCA Siapkan Aksi Korporasi Buyback Saham Maksimal Rp5 Triliun Tahun 2026

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA secara resmi telah mengumumkan rencana besar untuk melakukan pembelian kembali saham.

Aksi korporasi senilai maksimal Rp5 triliun ini dilakukan guna memperkuat kepercayaan para investor di tengah fluktuasi pasar modal saat ini.

Manajemen bank swasta terbesar di Indonesia tersebut menilai langkah ini sangat strategis untuk menjaga stabilitas harga saham Perseroan di bursa.

Proses pembelian kembali atau buyback saham ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemegang saham BCA nantinya.

Jadwal Pelaksanaan Rencana Pembelian Kembali Saham Bank Central Asia

Periode pelaksanaan aksi buyback saham ini dijadwalkan akan berlangsung selama satu tahun penuh setelah mendapatkan persetujuan resmi dari para pemegang saham.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan atau RUPST yang akan membahas agenda ini rencananya akan digelar pada Kamis 12 Maret 2026 mendatang.

Jika disetujui, maka Perseroan memiliki waktu selama 12 bulan untuk mengeksekusi pembelian saham tersebut sesuai dengan kondisi pasar yang berkembang di lapangan.

Aksi ini bisa saja berakhir lebih cepat jika target jumlah saham yang ingin dibeli kembali sudah terpenuhi sebelum masa periode berakhir.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa anggaran Rp5 triliun tersebut sudah mencakup seluruh biaya pendukung.

Biaya perantara pedagang efek serta biaya administrasi lainnya telah diperhitungkan secara matang agar tidak membebani pos keuangan penting milik Perseroan saat ini.

Jumlah saham yang akan dibeli kembali dipastikan tidak akan melampaui ambang batas maksimal 10 persen dari total modal disetor bank tersebut.

Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga likuiditas saham BBCA tetap terjaga dengan baik di pasar reguler bagi para investor ritel lainnya.

Komitmen BCA Menjaga Rasio Kecukupan Modal Dan Kepatuhan Regulasi

Manajemen BCA menegaskan bahwa pelaksanaan buyback saham ini tidak akan mengganggu rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio bank secara keseluruhan.

Seluruh proses aksi korporasi ini dipastikan telah memenuhi standar kepatuhan terhadap peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK yang berlaku di Indonesia sekarang.

Langkah ini justru diambil karena kondisi likuiditas perusahaan yang saat ini berada dalam posisi yang sangat sehat dan kuat secara fundamental ekonomi.

Oleh karena itu, operasional bisnis inti perbankan diproyeksikan tetap berjalan normal tanpa ada tekanan keuangan yang berarti akibat dari aksi ini.

Hera juga menambahkan bahwa pelaksanaan pembelian kembali saham ini tidak memiliki dampak material negatif bagi kinerja keuangan maupun kegiatan usaha harian Perseroan.

BCA senantiasa memegang teguh prinsip Good Corporate Governance dalam setiap pengambilan keputusan strategis yang menyangkut kepentingan publik dan juga para investor setianya.

Transparansi informasi menjadi hal utama yang dikedepankan agar pasar mendapatkan gambaran yang jelas mengenai tujuan jangka panjang dari dilakukannya aksi korporasi tersebut.

Dengan fundamental yang kokoh, BCA yakin bahwa langkah ini akan disambut positif oleh pelaku pasar modal baik dari dalam maupun luar negeri.

Proyeksi Dampak Positif Terhadap Nilai Perusahaan Dan Kepercayaan Investor

Keputusan melakukan buyback biasanya menjadi sinyal kuat bahwa manajemen merasa harga saham perusahaan saat ini masih berada di bawah nilai intrinsik sebenarnya.

Dengan mengurangi jumlah saham yang beredar, nilai laba per saham atau Earnings Per Share diharapkan dapat meningkat secara otomatis di masa depan.

Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang yang mencari pertumbuhan nilai aset yang stabil dan juga berkelanjutan setiap tahunnya.

Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat berharga bagi BCA dalam mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di industri perbankan tanah air saat ini.

Selain itu, aksi ini juga menunjukkan kemampuan arus kas perusahaan yang sangat kuat di tengah tantangan ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.

Para analis pasar modal memprediksi bahwa pengumuman ini akan memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham BBCA dalam beberapa waktu ke depan nanti.

BCA berkomitmen untuk terus memberikan imbal hasil yang optimal kepada para pemegang saham melalui berbagai kebijakan strategis yang terukur dan juga sangat transparan.

Melalui buyback ini, perusahaan berharap dapat menjaga performa sahamnya agar tetap kompetitif dibandingkan dengan perusahaan perbankan regional lainnya di Asia Tenggara.

Strategi Jangka Panjang Dalam Memperkuat Stabilitas Pasar Modal Indonesia

Sebagai salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, langkah BCA ini tentu memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap indeks harga saham gabungan.

Stabilitas saham BBCA sering kali menjadi cerminan dari tingkat kepercayaan investor terhadap kekuatan ekonomi nasional secara lebih luas dan juga lebih mendalam.

Aksi buyback ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi aktif BCA dalam menjaga agar pasar modal Indonesia tetap menarik bagi para pemilik modal besar dunia.

Sinergi antara kinerja keuangan yang cemerlang dan kebijakan korporasi yang tepat sasaran menjadi kunci sukses BCA dalam mengarungi tahun 2026 yang penuh peluang.

Manajemen bank juga akan terus memantau perkembangan kondisi ekonomi makro guna menyesuaikan kecepatan pelaksanaan pembelian kembali saham ini di pasar reguler nantinya.

Fleksibilitas dalam eksekusi menjadi poin penting agar dana yang dialokasikan dapat dipergunakan secara efektif dan efisien sesuai dengan dinamika harga yang terjadi.

Masyarakat dan para investor dapat memantau perkembangan lebih lanjut mengenai aksi ini melalui keterbukaan informasi yang rutin disampaikan oleh pihak Perseroan setiap periodenya.

Semangat untuk terus tumbuh dan memberikan layanan terbaik bagi nasabah tetap menjadi prioritas utama di samping menjalankan berbagai aksi korporasi strategis perusahaan tersebut.

Terkini