JAKARTA - Sektor industri pengolahan dan perdagangan diprediksi tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kredit perbankan nasional.
Langkah strategis perbankan ini didorong oleh kuatnya permintaan pasar yang menunjukkan tren peningkatan signifikan hingga penghujung tahun lalu.
Berdasarkan Survei Perbankan Bank Indonesia terbaru, pertumbuhan kredit baru pada triwulan IV 2025 memang mencatatkan kenaikan pesat.
Beberapa sektor unggulan yang menjadi penopang utama antara lain sektor penyediaan akomodasi dan makan minum dengan angka 88,53 persen.
Dominasi Sektor Industri Pengolahan Dalam Portofolio Perbankan
Sektor industri pengolahan menyusul di posisi kedua dengan capaian 75,92 persen, diikuti perantara keuangan sebesar 72,53 persen saat ini.
Selanjutnya, sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi mencatatkan 72,49 persen, serta perdagangan besar dan eceran di angka 63,53 persen.
Data Bank Indonesia memperlihatkan penyaluran kredit industri pengolahan naik 18,9 persen secara tahunan per Desember 2025 menjadi Rp 400,6 triliun.
Angka ini menunjukkan performa yang lebih impresif dibandingkan capaian pada bulan November 2025 yang hanya berada di level 18,1 persen.
Bank Indonesia memperkirakan aliran kredit baru pada triwulan I 2026 akan kembali didominasi oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan.
Myrdal Gunarto, Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, menilai fokus ini sangat sejalan dengan kinerja ekonomi nasional yang terus berangsur membaik.
Menurutnya, sektor manufaktur menunjukkan prospek sangat menarik bagi lembaga keuangan yang ingin melakukan ekspansi kredit secara lebih agresif lagi.
Subsektor seperti industri besi baja, makanan dan minuman, serta farmasi menjadi primadona yang paling banyak dilirik oleh perbankan saat ini.
Faktor Musiman Dan Stabilitas Ekonomi Nasional Tahun Ini
Selain fundamental ekonomi, lonjakan kredit sektor perdagangan juga dipengaruhi oleh faktor musiman yang terjadi pada awal tahun 2026 sekarang.
Aktivitas ekonomi masyarakat biasanya meningkat pesat menjelang momentum besar seperti bulan suci Ramadan serta perayaan hari raya Idul Fitri nanti.
Peningkatan konsumsi rumah tangga secara otomatis mendorong kebutuhan modal kerja bagi para pelaku usaha di sektor perdagangan besar maupun eceran.
Hal inilah yang membuat perbankan tetap optimis menyalurkan pembiayaan meski kondisi ekonomi global masih dibayangi oleh berbagai ketidakpastian yang ada.
Kinerja industri pengolahan dinilai sangat selaras dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini masih mampu bertahan pada kisaran 5 persen.
Meskipun pertumbuhan tersebut tidak melonjak tajam, stabilitas ini memberikan keyakinan penuh bagi industri perbankan untuk terus menjaga ekspansi kredit mereka.
Permintaan pembiayaan dari segmen korporasi tetap kuat karena dana tersebut banyak dialokasikan untuk kebutuhan investasi jangka panjang perusahaan secara luas.
Kecenderungan perusahaan melakukan ekspansi kapasitas produksi menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku usaha terhadap iklim investasi di Indonesia masih sangat tinggi.
Sikap Hati-Hati Perbankan Terhadap Penyaluran Kredit Ritel
Meskipun kredit korporasi tumbuh pesat, penyaluran pinjaman ke segmen ritel atau personal justru masih terlihat relatif cukup terbatas hingga sekarang.
Fenomena ini mencerminkan sikap kehati-hatian pihak perbankan dalam memitigasi risiko di tengah dinamika ekonomi yang masih terus bergerak sangat dinamis.
Masyarakat juga cenderung lebih selektif dalam mengajukan pinjaman konsumtif, mengingat prioritas kebutuhan yang mungkin bergeser pada awal tahun baru 2026 ini.
Myrdal menambahkan bahwa jika kondisi ekonomi ke depan semakin solid, maka permintaan kredit ritel dipastikan akan ikut terkerek naik secara perlahan.
Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, menyatakan bahwa pihaknya memberikan perhatian ekstra pada sektor perdagangan dan industri pengolahan karena stabilitasnya.
Hingga akhir Desember 2025, portofolio kredit OK Bank di kedua sektor tersebut telah mencapai porsi sekitar 25 persen dari total penyaluran.
Tren pertumbuhan ini dianggap sangat konsisten dengan membaiknya tingkat konsumsi domestik serta aktivitas produksi nasional yang terus mengalami pemulihan pasca pandemi.
Efdinal menekankan bahwa meskipun potensinya besar, bank tetap harus waspada terhadap karakter siklikal yang melekat pada industri pengolahan secara umum.
Optimalisasi Layanan Transaksi Dan Manajemen Risiko Bank
Sektor perdagangan modern seperti ritel skala besar dinilai lebih stabil jika dibandingkan dengan industri yang sangat bergantung pada harga bahan baku.
Oleh karena itu, pembiayaan tetap diarahkan kepada para debitur yang memiliki fundamental kuat serta rekam jejak pembayaran yang terbukti sangat baik.
Analisis arus kas yang solid menjadi syarat mutlak bagi bank sebelum memberikan persetujuan kredit guna menjaga kualitas aset tetap berada di level aman.
Strategi ini diterapkan agar pertumbuhan volume kredit tidak mengorbankan tingkat kesehatan bank secara keseluruhan di masa yang akan datang nanti.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menjelaskan bahwa penentuan fokus sektor kredit didasarkan pada kombinasi permintaan pasar dan strategi bisnis.
Permintaan pembiayaan di sektor perdagangan dan pengolahan masih sangat solid, terutama untuk kebutuhan modal kerja yang berkaitan dengan rantai pasok industri.
Kedua sektor ini juga memiliki keterkaitan erat dengan layanan transaksi perbankan seperti trade finance, cash management, serta supply chain financing saat ini.
Pemanfaatan layanan tersebut tidak hanya meningkatkan saldo kredit, tetapi juga memberikan kontribusi besar pada pendapatan berbasis komisi bagi pihak perbankan.
Pada Kamis 29 Januari 2026, Kunardy menyebutkan bahwa profil risiko di sektor-sektor unggulan tersebut sebenarnya masih tergolong relatif cukup terukur.
Penerapan prinsip kehati-hatian melalui proses underwriting yang sangat selektif tetap menjadi prioritas utama KB Bank dalam menjalankan roda bisnis pembiayaannya.
Hingga saat ini, realisasi kredit dari nasabah eksisting menunjukkan perkembangan positif dengan kualitas kredit yang tetap terjaga dengan sangat baik sekali.
KB Bank menargetkan pertumbuhan yang berkualitas pada tahun ini dengan memperkuat hubungan nasabah serta melakukan optimalisasi pada produk-produk transaksi keuangan.