Penyeberangan Ketapang Gilimanuk Diprioritaskan Selama Puncak Arus Balik Lebaran Tahun Ini

Jumat, 27 Maret 2026 | 09:49:29 WIB
Penyeberangan Ketapang Gilimanuk Diprioritaskan Selama Puncak Arus Balik Lebaran Tahun Ini

JAKARTA - Pemerintah menempatkan kelancaran arus balik Lebaran sebagai prioritas utama dalam menjaga mobilitas masyarakat. 

Salah satu titik krusial yang mendapat perhatian adalah layanan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Jalur ini menjadi penghubung penting antara Pulau Jawa dan Bali yang selalu padat saat musim libur.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, menegaskan bahwa layanan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk menjadi prioritas utama. Penegasan ini disampaikan sebagai bagian dari kesiapan menghadapi lonjakan arus balik Lebaran 2026. Fokus tersebut diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi kendaraan dan penumpang.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam arahannya pada rapat koordinasi bersama para pemangku kepentingan. Rapat ini bertujuan mematangkan strategi menghadapi puncak arus balik gelombang dua angkutan Lebaran. Dengan koordinasi yang matang, potensi kepadatan dapat diantisipasi lebih baik.

Strategi TBB dan Keputusan Cepat di Lapangan

Dalam upaya menjaga kelancaran operasional, pemerintah menerapkan mekanisme Tiba Bongkar Berangkat sebagai acuan utama. Sistem ini digunakan untuk memastikan pergerakan kapal berjalan efisien dan tidak menimbulkan antrean panjang. Parameter operasional juga telah ditetapkan sebagai batas pengendali.

"Kita harus memprioritaskan layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk pada arus balik ini. Untuk mekanisme Tiba - Bongkar - Berangkat kita memiliki parameter V/C ratio maksimal 0,6. Maka keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di lapangan," ucapnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya respons cepat dalam menghadapi situasi dinamis di pelabuhan. Pengambilan keputusan yang tepat waktu menjadi faktor penentu kelancaran arus kendaraan. Hal ini juga menjadi pelajaran dari pengalaman arus mudik sebelumnya.

Optimalisasi Buffer Zone dan Pengaturan Kendaraan

Evaluasi dari arus mudik sebelumnya menunjukkan perlunya optimalisasi buffer zone dan delaying system. Kedua strategi ini bertujuan mengurai antrean kendaraan sebelum memasuki area pelabuhan. Dengan pengelolaan yang baik, kepadatan dapat dikendalikan secara bertahap.

"Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Begitu pun dengan pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan kondusif," imbuh Dirjen Aan.

Buffer zone untuk kendaraan roda empat dan bus dialokasikan di Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara kendaraan barang diarahkan ke buffer zone Sri Tanjung serta kantong parkir PT Pusri dan Pelindo. Penataan ini diharapkan mampu memperlancar alur kendaraan menuju pelabuhan.

Penambahan Kapal Sesuai Kondisi Kepadatan

Selain pengaturan darat, strategi juga difokuskan pada pengoperasian kapal penyeberangan. Jumlah kapal yang beroperasi akan disesuaikan dengan tingkat kepadatan yang terjadi. Hal ini menjadi langkah fleksibel untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

Pada kondisi normal, sebanyak 28 kapal dioperasikan untuk melayani penyeberangan. Saat kondisi padat, jumlahnya meningkat menjadi 30 kapal, dan pada kondisi sangat padat mencapai 32 kapal. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga waktu tunggu tetap terkendali.

"Apabila sangat diperlukan jumlah kapal bisa ditambah menjadi 35 sampai dengan 40 kapal dan akan ada 2 kapal bantuan yang kapasitasnya 60 hingga 80 kendaraan," tambahnya.

Langkah ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi skenario terburuk sekalipun. Penambahan armada menjadi solusi penting untuk mengurai antrean panjang. Dengan demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap optimal.

Data Pergerakan Kendaraan dan Pentingnya Sinergi

Berdasarkan data yang dihimpun oleh PT ASDP Indonesia Ferry, pergerakan kendaraan menunjukkan angka yang cukup signifikan. Pada periode H+1 hingga H+3, jumlah kendaraan yang telah menyeberang ke Bali mencapai 41.526 unit. Data ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat selama arus balik.

Rinciannya terdiri dari roda dua sebanyak 24.093 unit, roda empat sebanyak 14.179 unit, bus sebanyak 927 unit, dan truk sebanyak 2.327 unit. "Dari jumlah tersebut masih terdapat 114.255 kendaraan yang belum menyeberang ke Bali dan ASDP memprediksi arus balik tertinggi jatuh pada H+6 atau tanggal 28 Maret 2026," jelasnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa puncak arus balik masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, kesiapan seluruh pihak menjadi sangat penting dalam menghadapi lonjakan tersebut. Koordinasi yang solid menjadi kunci utama keberhasilan.

Demi mewujudkan arus balik yang selamat, aman dan lancar, diperlukan komunikasi yang baik antarinstansi. Sinergi antara operator pelabuhan, TNI, Polri, Dinas Perhubungan dan berbagai pihak terkait harus terus diperkuat. Dengan kerja sama yang optimal, arus balik diharapkan berjalan tertib dan lancar.

Terkini