JAKARTA - Di tengah dinamika industri properti dan pariwisata, emiten pengelola lapangan golf terus berupaya menjaga pertumbuhan bisnisnya.
PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) menjadi salah satu perusahaan yang berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan, meskipun di saat yang sama menghadapi tekanan pada laba bersih sepanjang 2025.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor rekreasi berbasis golf masih memiliki daya tarik tersendiri, terutama ketika didukung oleh pengembangan kawasan yang terintegrasi dan peningkatan kualitas fasilitas. Dalam hal ini, proyek New Kuta Golf di Bali menjadi salah satu kontributor utama terhadap kinerja perseroan.
Kinerja Pendapatan dan Kontribusi Proyek Utama
Berdasarkan laporan keuangan, GOLF mencatatkan pendapatan sebesar Rp 215,5 miliar pada 2025, meningkat 8,9% secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 197,9 miliar.
Direktur Utama GOLF Dwi Febri Astuti menyampaikan bahwa capaian ini ditopang oleh proyek New Kuta Golf yang memberikan kontribusi sebesar Rp 182,3 miliar terhadap total pendapatan.
“Pendapatan dari segmen golf tumbuh 28,7% yoy menjadi Rp 82,3 miliar, didorong oleh meningkatnya daya tarik New Kuta Golf seiring berbagai inisiatif peningkatan kualitas lapangan dan kawasan yang dilakukan perseroan sepanjang tahun,” paparnya.
Peningkatan kualitas tersebut mencakup renovasi lapangan serta penambahan berbagai fasilitas pendukung guna meningkatkan pengalaman bermain bagi pengunjung.
Selain segmen golf, proyek ini juga memberikan kontribusi dari sektor lain. Segmen real estat menyumbang Rp 68,3 miliar, restoran Rp 19 miliar, dan segmen lainnya sebesar Rp 12 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan secara terpadu mampu menciptakan sumber pendapatan yang beragam.
Penurunan Kontribusi Sentul dan Transformasi Kawasan
Di sisi lain, kontribusi dari proyek Sentul Golf Utama mengalami penurunan signifikan. Pendapatan dari kawasan ini tercatat sebesar Rp 33 miliar, turun 68,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terjadi seiring transformasi kawasan melalui pengembangan Sequoia Hills seluas 76 hektar yang dilakukan melalui Kerja Sama Operasi (KSO) dengan Trinitiland.
Dalam skema ini, setiap serah terima unit akan diakui sebagai pendapatan dalam bentuk nilai pokok tanah, sementara potensi keuntungan lanjutan akan diperoleh melalui mekanisme bagi hasil sebesar 50% pada tahap berikutnya.
Pada 2025, perseroan telah memulai serah terima cluster pertama bernama Leroy dengan pengakuan pendapatan sebesar Rp 11 miliar. Sebagai perbandingan, pada 2024 pendapatan real estate di Sentul mencapai Rp 67,8 miliar yang berasal dari penjualan lahan seluas 19 hektar kepada Trinitiland dengan nilai Rp 150 miliar.
“Hingga 31 Desember 2025, total pendapatan yang telah diakui dari transaksi tersebut mencapai Rp 112,5 miliar, dengan sisa Rp 37,5 miliar yang belum diakui sebagai pendapatan. Penjualan lahan ini tidak termasuk dalam skema KSO Sequoia Hills,” ungkapnya.
Tekanan Laba dan Strategi Investasi Perseroan
Meskipun pendapatan meningkat, laba bersih GOLF pada 2025 tercatat sebesar Rp 51,8 miliar, turun 23,3% dibandingkan Rp 67,5 miliar pada 2024.
Penurunan ini dipengaruhi oleh meningkatnya beban operasional, terutama dari biaya pemasaran yang sejalan dengan dimulainya pengakuan pendapatan dari serah terima proyek real estate.
Sepanjang tahun yang sama, perseroan juga merealisasikan belanja modal sebesar Rp 202,5 miliar. Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan kawasan New Kuta Golf sebagai proyek unggulan.
Selain itu, pada Oktober 2025, GOLF memulai pembangunan proyek Banyan Tree Pecatu Bali Hotel yang akan dikelola oleh Banyan Tree. Proyek ini berlokasi di tebing yang menghadap Samudra Hindia dan diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kawasan sekaligus mendorong pertumbuhan pendapatan berulang.
Rencana Pengembangan dan Prospek Bisnis Ke Depan
Ke depan, GOLF berfokus pada percepatan serah terima unit yang telah terjual, menjaga kualitas operasional lapangan golf, serta mengoptimalkan kontribusi dari fasilitas baru.
“Ke depan, fokus kami adalah mempercepat serah terima unit yang telah terjual, menjaga kualitas operasional lapangan golf, serta mengoptimalkan kontribusi dari fasilitas baru,” kata Dwi.
Pada 2026, perseroan akan melanjutkan pengembangan kawasan secara terintegrasi yang menggabungkan golf, hospitality, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Pengembangan ini mencakup wilayah Bali, Sentul, dan Belitung.
Sejumlah fasilitas baru juga akan dihadirkan, seperti pusat hiburan golf berkonsep hybrid driving range, wedding venue, serta area komersial. Inisiatif ini dirancang untuk menjangkau segmen pengunjung yang lebih luas.
Di Belitung, perseroan berencana mengembangkan fasilitas tambahan seperti Laskar Pelangi Beach Food Plaza dan Black Rocks Camping Ground guna meningkatkan aktivitas di kawasan Black Rocks Golf & Leisure.
Dengan berbagai pengembangan yang terus berjalan, manajemen berharap jumlah kunjungan dan aktivitas di kawasan dapat meningkat. Hal ini diharapkan dapat memperkuat posisi GOLF sebagai salah satu destinasi rekreasi dan properti terintegrasi yang menarik di Indonesia.