UMKM

UMKM Lemang Pontianak Kebanjiran Pesanan Selama Bulan Ramadan 2026

UMKM Lemang Pontianak Kebanjiran Pesanan Selama Bulan Ramadan 2026
UMKM Lemang Pontianak Kebanjiran Pesanan Selama Bulan Ramadan 2026

JAKARTA - Para perajin kuliner tradisional lemang di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mulai merasakan dampak positif dari lonjakan permintaan konsumen sejak memasuki awal bulan suci.

Penganan khas yang dimasak di dalam bambu dengan metode bakar ini menjadi salah satu menu takjil yang paling diburu warga sebagai pelengkap berbuka puasa bersama keluarga.

Meningkatnya pesanan ini memberikan angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor kuliner yang mengandalkan momentum Ramadan untuk mendongkrak omzet tahunan mereka.

Laporan pada Selasa 24 Februari 2026 menunjukkan bahwa sejumlah sentra produksi lemang di wilayah Pontianak telah meningkatkan kapasitas produksinya hingga berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa.

Tradisi Kuliner dan Proses Produksi yang Unik

Lemang tetap menjadi primadona karena cita rasanya yang khas, hasil dari perpaduan beras ketan, santan kelapa, dan aroma harum dari daun pisang serta bambu yang dibakar secara perlahan.

Proses pembuatan yang memakan waktu lama dan membutuhkan keahlian khusus dalam mengatur nyala api membuat banyak warga lebih memilih untuk membelinya secara langsung di gerai-gerai UMKM lokal.

Salah seorang perajin lemang di Pontianak mengungkapkan bahwa mereka harus mulai menyiapkan bahan baku sejak dini hari guna memenuhi daftar pesanan yang terus masuk melalui pesan digital maupun pembeli langsung.

Meskipun permintaan melonjak, para perajin berkomitmen untuk tetap menjaga kualitas rasa dan tekstur lemang agar tidak mengecewakan pelanggan setia yang sudah mengantre sejak sore hari.

Penggunaan bahan baku lokal yang segar menjadi kunci utama mengapa lemang asal Pontianak ini memiliki daya tarik tersendali di tengah banyaknya pilihan menu berbuka puasa modern lainnya di pasar.

Dampak Ekonomi bagi Pelaku Usaha Lokal

Fenomena "kebanjiran pesanan" ini memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pengusaha kecil, di mana pendapatan harian mereka dapat meningkat hingga tiga kali lipat selama bulan Ramadan.

Banyak UMKM yang akhirnya menambah tenaga kerja bantuan dari lingkungan sekitar guna membantu proses pengisian ketan ke dalam bambu hingga proses pembakaran yang membutuhkan pengawasan ekstra.

Hal ini secara tidak langsung menciptakan lapangan kerja temporer yang membantu menggerakkan roda ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput selama masa bulan suci hingga menjelang lebaran.

Harga jual yang tetap stabil dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat membuat lemang menjadi pilihan konsumsi yang inklusif dan selalu dinantikan kehadirannya setiap tahun oleh warga Pontianak.

Pemerintah kota pun memberikan dukungan melalui penyediaan ruang bagi para pedagang kaki lima dan UMKM kuliner di pasar-pasar Ramadan agar distribusi produk lokal ini semakin luas dan tertib.

Strategi Pemasaran di Era Digital

Menyadari tingginya minat masyarakat, banyak perajin lemang kini mulai merambah dunia digital dengan mempromosikan dagangan mereka melalui media sosial guna menjangkau pelanggan yang lebih jauh.

Sistem pemesanan awal atau pre-order secara daring membantu para perajin dalam memetakan jumlah produksi harian sehingga risiko barang tidak ludes terjual dapat diminimalisir secara efektif.

Beberapa pelaku UMKM juga bekerja sama dengan jasa pengantaran daring guna memberikan kemudahan bagi konsumen yang ingin menikmati lemang hangat tanpa harus keluar rumah dan terjebak kemacetan.

Inovasi juga dilakukan pada sisi varian rasa, di mana kini tersedia lemang dengan isian durian atau dimakan bersama rendang dan sarikaya guna memberikan pengalaman kuliner yang lebih beragam bagi pembeli.

Langkah digitalisasi ini terbukti efektif dalam mempertemukan kearifan lokal kuliner tradisional dengan gaya hidup masyarakat modern yang mengutamakan kecepatan dan kepraktisan dalam bertransaksi.

Harapan Keberlanjutan Usaha Kuliner Tradisional

Antusiasme masyarakat terhadap lemang membuktikan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati warga meskipun gempuran makanan kekinian semakin masif di era globalisasi ini.

Para perajin berharap dukungan dari masyarakat untuk terus mencintai produk lokal dapat berlangsung secara berkelanjutan, tidak hanya pada saat momentum bulan Ramadan saja setiap tahunnya.

Pelestarian teknik memasak lemang juga diharapkan dapat diwariskan kepada generasi muda agar kekayaan budaya kuliner khas Kalimantan Barat ini tidak hilang ditelan zaman yang terus berkembang cepat.

Dengan pengelolaan yang lebih profesional dan dukungan infrastruktur pasar yang baik, UMKM lemang Pontianak berpotensi untuk menjadi salah satu ikon wisata kuliner unggulan daerah yang mendunia.

Semoga berkah Ramadan tahun ini membawa kesejahteraan bagi seluruh pelaku UMKM kuliner di Indonesia dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui sektor ekonomi kreatif yang berbasis budaya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index