JAKARTA - Menjelang berbagai tantangan global yang berkaitan dengan energi, pemerintah mulai menekankan pentingnya peran dunia pendidikan tinggi dalam mendorong inovasi teknologi. Perguruan tinggi dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan riset dan pengembangan teknologi yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kemandirian energi menjadi perhatian penting bagi pemerintah. Ketersediaan energi yang stabil dan terjangkau dianggap sebagai salah satu faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi serta mendukung aktivitas masyarakat di berbagai sektor.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi terus diperkuat, terutama dalam pengembangan teknologi yang berkaitan dengan energi terbarukan dan efisiensi energi. Dukungan riset dari kampus diharapkan mampu mempercepat terciptanya inovasi yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Peran Kampus Dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk mempercepat penguasaan teknologi yang dapat mendukung ketahanan energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Brian usai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Menurut Brian, rapat tersebut membahas berbagai agenda strategis, salah satunya pemanfaatan riset dan inovasi dari kampus untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
“Banyak yang dibahas. Intinya kita sekarang butuh teknologi-teknologi yang dikuasai kampus untuk bisa segera membantu ketahanan energi terutama,” kata Brian kepada wartawan.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki sumber daya peneliti serta fasilitas penelitian yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan inovasi baru di sektor energi. Melalui penguatan riset tersebut, pemerintah berharap kampus dapat berkontribusi secara nyata dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Eksplorasi Teknologi Energi Dan Kendaraan Listrik
Dalam pembahasan tersebut, pemerintah juga mengeksplorasi berbagai teknologi yang dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi. Beberapa teknologi yang menjadi perhatian antara lain teknologi kendaraan listrik serta pembangkit listrik tenaga surya.
“Jadi tadi kita eksplorasi mana teknologi untuk kendaraan listrik, untuk PLTS,” tandas Brian.
Pengembangan kendaraan listrik dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Selain itu, pemanfaatan energi surya juga dipandang memiliki potensi besar karena Indonesia memiliki sumber energi matahari yang melimpah sepanjang tahun. Dengan pengembangan teknologi tersebut, pemerintah berharap dapat mempercepat transisi menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Riset Solar Cell Dan Kompor Listrik Dipercepat
Baru-baru ini, Presiden meminta agar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mendongkrak riset serta penelitian terkait dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga kompor listrik.
Menurut Brian, dukungan dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan teknologi tersebut.
"Jadi, kami dari perguruan tinggi, riset-riset hasil-hasil penelitian dan juga kajian-kajian itu diminta mendukung percepatan solar cell ya, PLTS terutama untuk mengganti pembangkit-pembangkit yang harganya masih mahal yaitu pembangkit-pembangkit yang berasal dari diesel," kata Brian.
Pengembangan teknologi solar cell diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis bahan bakar diesel yang biaya operasionalnya relatif tinggi.
Selain itu, teknologi kompor listrik juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong penggunaan energi yang lebih efisien di tingkat rumah tangga.
Dengan dukungan riset dari perguruan tinggi, berbagai teknologi tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara lebih cepat dan dapat diterapkan secara luas di masyarakat.
Ketahanan Energi Berkaitan Dengan Situasi Geopolitik Global
Sementara itu, Presiden juga menyinggung terkait dengan ketahanan pangan dan energi saat meresmikan 218 jembatan secara virtual pada kemarin, Senin (9/3/2026). Dalam pernyataannya, Presiden menyinggung terkait dengan kondisi geopolitik yang tengah panas.
Presiden juga menjelaskan bahwa dalam keadaan perang, harga BBM telah menjulang sangat tinggi yang bisa mempengaruhi harga pangan. Namun, menurutnya, Indonesia bersyukur karena telah mampu swasembada pangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi dan pangan merupakan dua sektor penting yang saling berkaitan. Stabilitas pasokan energi dapat mempengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk produksi dan distribusi pangan di dalam negeri.
Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk melalui dukungan riset dan inovasi dari perguruan tinggi. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan Indonesia dapat memiliki teknologi energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan di masa depan.