JAKARTA - Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, masyarakat Muslim biasanya mulai menantikan kepastian kapan Hari Raya Idul Fitri akan dirayakan.
Penentuan awal Syawal selalu menjadi perhatian karena berkaitan dengan ibadah dan perayaan yang sangat penting bagi umat Islam. Selain menunggu keputusan resmi pemerintah, berbagai lembaga dan peneliti juga sering melakukan prediksi berdasarkan perhitungan astronomi.
Perkiraan tersebut umumnya menggunakan metode hisab untuk melihat posisi bulan atau hilal sebagai penanda pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Dari hasil pengamatan dan perhitungan tersebut, para ahli kemudian memproyeksikan kemungkinan tanggal 1 Syawal. Meski demikian, keputusan akhir tetap ditetapkan melalui sidang isbat yang digelar pemerintah.
Salah satu prediksi mengenai Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah disampaikan oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Berdasarkan analisis posisi hilal dan kriteria yang digunakan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara, ada kemungkinan Lebaran jatuh pada tanggal tertentu. Namun demikian, masih terdapat kemungkinan perbedaan jika menggunakan kriteria perhitungan lain yang berlaku secara global.
Prediksi ini menjadi gambaran awal bagi masyarakat mengenai kemungkinan waktu perayaan Idul Fitri. Meski belum bersifat final, penjelasan dari para peneliti memberikan pemahaman mengenai proses ilmiah yang digunakan untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah.
Prediksi Idul Fitri Berdasarkan Perhitungan Astronomi
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memprediksi Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026. Prediksi tersebut didasarkan pada perhitungan astronomi terkait posisi hilal.
Thomas menjelaskan secara astronomi pada saat Kamis (19/3) waktu magrib di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Hal itu, terlihat pada peta perhitungan yang masih melintasi wilayah Asia Tengah.
"Fakta astronomi, pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, ditunjukkan pada kurva kuning yang melintasi Asia Tengah," kata Thomas kepada wartawan, Selasa (10/3/2026).
Kriteria MABIMS Dalam Penentuan Awal Syawal
Penentuan awal bulan Hijriah di beberapa negara Asia Tenggara menggunakan kriteria yang disepakati oleh MABIMS. Aturan ini menjadi acuan dalam menentukan apakah hilal sudah memenuhi syarat untuk menetapkan awal bulan baru.
Untuk diketahui, kriteria MABIMS sejak 2021/2022, bulan awal hijriah ditetapkan jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dengan kondisi tersebut, menurutnya, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. Namun, dia mengatakan keputusan tanggal Lebaran masih harus menunggu keputusan sidang isbat.
"Maka 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026, akan menunggu keputusan sidang isbat," sambungnya.
Kemungkinan Perbedaan Dengan Kriteria Lain
Meski demikian, perhitungan awal Syawal juga dapat berbeda jika menggunakan metode atau kriteria lain. Dalam konteks global, terdapat pendekatan yang dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Menurut Thomas, jika menggunakan kriteria tersebut, posisi bulan sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk penetapan awal bulan Syawal. Hal ini terlihat dari hasil analisis posisi bulan dalam peta perhitungan astronomi.
"Sedangkan menurut kriteria KHGT (kurva ungu), posisi bulan telah memenuhi kriteria dan ijtima' telah terjadi sebelum fajar di Selandia Baru (ada catatan kecil di peta ini)," ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, kemungkinan tanggal Idul Fitri dapat berbeda satu hari dibandingkan dengan perhitungan menggunakan kriteria MABIMS.
Keputusan Akhir Tetap Menunggu Sidang Isbat
Walaupun berbagai prediksi telah disampaikan oleh para ahli, penentuan resmi Hari Raya Idul Fitri tetap berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat. Sidang tersebut biasanya melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli astronomi, perwakilan organisasi keagamaan, serta instansi terkait.
Dalam prosesnya, sidang isbat mempertimbangkan dua metode utama, yaitu hisab atau perhitungan astronomi dan rukyat atau pengamatan langsung hilal. Hasil dari kedua metode tersebut kemudian menjadi dasar penetapan tanggal 1 Syawal yang berlaku secara resmi.
Dengan demikian, masyarakat tetap perlu menunggu keputusan yang diumumkan setelah sidang isbat dilaksanakan. Prediksi yang disampaikan oleh para peneliti dapat menjadi gambaran awal, tetapi belum dapat dijadikan kepastian sebelum adanya penetapan resmi.
"Maka menurut kriteria KHGT 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026," imbuh dia.
Informasi mengenai prediksi ini sekaligus menunjukkan bahwa penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah melibatkan perhitungan ilmiah yang cukup kompleks. Selain faktor astronomi, kesepakatan metode yang digunakan juga turut memengaruhi hasil penetapan tanggal penting dalam kalender Islam.